“Kebun Kota Metropolitan”: Indonesia Berkebun diliput secara khusus oleh VIVAnews.com untuk fitur “Sorot”

Indonesia Berkebun – IDberkebun diliput secara khusus oleh VIVAnews.com untuk fitur “Sorot”

BAGIAN 1: “Kebun Kota Metropolitan”
Krusial bagi masa depan RI, tapi butuh gerakan dengan kesabaran besar

Tautan asli: http://sorot.news.viva.co.id/news/read/525834-kebun-kota-metropolitan

oleh: Dwifantya Aquina, Arie Dwi Budiawati, Bimo Wiwoho, Riska Herliafifah

Sabtu, 2 Agustus 2014, 11:19 WIB


Panen Raya JktBerkebun di Springhill, Kemayoran, Jakarta (www.facebook.com/JktBerkebun)

VIVAnews – Bagi banyak orang, berkebun menjadi sesuatu yang sulit dilakukan di perkotaan, apalagi di Jakarta yang sarat dengan berbagai masalah lingkungan. Mulai dari polusi asap kendaraan bermotor, lahan yang sempit hingga buruknya kondisi tanah dan udara. Tapi, sulit bukan berarti tidak mungkin.

Soal lahan, tidak perlu area yang luas. Berkebun bisa dilakukan sesederhana mungkin, seperti di halaman rumah, bahkan balkon. Itulah kegiatan Erin Rahayu, seorang pegiat “Jakarta Berkebun.” Ini merupakan nama gerakan menanam yang tengah populer di kalangan kaum urban di Ibu Kota dan kini menyebar ke kota-kota metropolitan lain di Tanah Air.

Di rumahnya yang berlokasi di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Erin giat berkebun. Saat tiba di kediamannya, pemandangan berbagai tanaman dan pot-pot di halaman depan memanjakan pandangan mata. Salah satunya buah terung putih yang sudah siap panen.

Meski tergolong pemula, Erin menanam banyak jenis tumbuhan, sampai ia sendiri bingung menghitung. Mulai dari peppermint, jeruk purut, tomat hijau, selada, markisa, daun salam, buah sirsak, belimbing wuluh, basil. Hingga tanaman yang tidak bisa dimakan seperti zodia, tanaman anti nyamuk yang bisa mengeluarkan aroma wangi saat bergesekan karena angin.

Memiliki darah Sunda, Ibu Sumedang dan Ayah Cianjur, membuat Erin dan keluarga gemar mengonsumsi sayuran. Hal itu menjadi keuntungan saat ia mulai berkebun, karena bisa langsung petik kala membutuhkan lalapan.

Bicara soal masa panen tanaman, Erin menyebut kangkung sebagai sayuran yang paling cepat masa panennya. Hanya sekitar 21 hari atau 3 minggu. Lebih cepat jika dibandingkan dengan selada, pakcoy dan sawi, yang membutuhkan waktu satu bulan. Berbeda lagi dengan tomat yang biasanya baru bisa dipetik setelah empat bulan ditanam.
Udara Ibu Kota yang dikenal kurang sehat tidak menyurutkan keinginan Erin untuk bercocok tanam di halaman rumahnya. Itu berawal pada April 2013 saat ia mulai bergabung dengan Jakarta Berkebun.

“Kalau kita kerja di Jakarta kan pusing. Berangkat nggak ketemu matahari, pulang nggak ketemu matahari. Kadang kalau pulang lagi capek, nyiram (tanaman) aja seger. Jadi sebagai refreshing,” ujar Erin saat ditemui VIVAnews.

Untuk perawatan kebun, Erin menyiramnya dua kali dalam sehari. Setiap pagi dan sore hari. Ia mengatakan, sebenarnya tanaman bisa tumbuh di Jakarta meski kondisi udara tak terlalu baik. Sebab, pada dasarnya semua tanaman membutuhkan sinar matahari.

“Tergantung juga tanamannya. Ini selada merah, warna merah atau tidaknya tergantung dari sinar matahari. Semakin dijemur merahnya akan semakin kelihatan,” jelas Erin.
Hama menjadi musuh besar bagi siapapun yang memiliki kebun, termasuk Erin. Belalang, tikus, ulat, bahkan kutu menjadi kendala pertumbuhan tanaman. Untuk kutu yang mengundang semut, ia memakai ramuan khusus yang biasa disebut pestisida nabati.

Ia biasa meracik ramuan itu sendiri dengan memetik daun mimba, sambiloto, dan jeruk nipis dari kebunnya. Setelah dihaluskan dengan blender, lalu ia semprotkan ke tanaman yang berpenyakit. Ia juga kerap menambahkan daun pepaya dan bawang putih dalam ramuannya.

Sedangkan tikus, Erin mengantisipasi dengan penyimpanan pot yang lebih tinggi, agar tidak bisa dijangkau oleh hewan pengerat itu. “Kalau belalang, biasanya ketahuan saat lagi menetes banyak, kadang tanaman isinya anak belalang semua. Biasanya saya tangkap, terus kasih ke ayam,” tuturnya.

Meski menyenangkan, Erin bukan memulai hobi barunya tanpa kendala. Gagal panen bukan sekali dua kali ia hadapi.
Kata dia, kadang setiap orang memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi, membayangkan begitu menanam pasti langsung panen. Padahal tidak selalu seperti itu.

Saat ia menanam kangkung, tanaman yang terhitung paling mudah, sering kali tidak tumbuh sesuai harapan. “Sudah tunggu sampai satu bulan dan kangkungnya masih segini saja (pendek), sedangkan yang lain sudah panen. Saya pikir, ‘kenapa gue nggak bisa ya’,” ungkap Erin seraya tertawa.

Tekad Erin untuk terus menanam tak kunjung surut. Walaupun sempat merasa putus asa, ia terus mencari tahu penyebab gagal panen kangkungnya itu. Hingga akhirnya ia tahu, bahwa ternyata media tanam yang digunakannya salah. Dari sana ia lalu belajar membuat media tanam yang bagus.

Untuk mendapatkan hasil kebun optimal, tanah adalah kunci utamanya. Maka, hal utama yang penting diketahui bila ingin berkebun adalah mengenali jenis tanah yang ada di rumah. Apakah tanah pasir, lempung atau gembur. Beruntung bila tanah di rumah Anda gembur.

Namun, menjadi tugas tambahan lagi jika kondisi tanah yang ditemui tidak baik, seperti tanah lempung. Seperti kebun milik Jakarta Berkebun di Casa Goya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Anggota dari Jakarta Berkebun yang disebut Penggiat, harus bekerja lebih keras untuk membersihkan tanah yang sebelumnya adalah tempat pembuangan sampah dan banyak puing-puing. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mengembalikan kondisi tanah menjadi sehat. Ditambah tekstur tanahnya yang lengket, sehingga harus diolah kembali.

Erin bersama penggiat Jakarta Berkebun melakukan penambahan pasir, sekam, pupuk kandang dan organik. Itu semua berguna untuk mengembalikan mikroorganisme di dalam tanah. Mereka membutuhkan waktu satu tahun sampai tanah kembali normal.

“Pengembalian tanahnya itu setahun karena setiap kita gali ketemunya batu sama plastik. Kayak kemarin kita panen singkong, nggak begitu bagus karena tanahnya banyak batu, pas kita angkat itu yang nyangkut di singkong ada plastik dan tutup botol,” kisahnya.

Indonesia Berkebun

Indonesia Berkebun (@IDBerkebun) diawali dengan Jakarta Berkebun yang diinisiatori Ridwan Kamil (Kang Emil), seorang arsitek yang kini menjadi wali kota Bandung. Ia prihatin melihat lahan kosong di Jakarta banyak yang menganggur.

Pada awalnya, gerakan ini ingin membawa misi mengembalikan lahan tidur secara luas. Namun karena mencari lahan yang sangat luas itu cukup sulit, maka ID Berkebun beralih menjadi housewarming yang mengarahkan berkebun di halaman rumah.

“Jakarta itu kalau kita lihat dari google map banyak lahan kosong yang tidak termanfaatkan,” kata Ida Amal, penanggung jawab edukasi di Akademi Berkebun.

Mengenakan kaus bertuliskan ‘Indonesia Berkebun’, Ida menceritakan, setelah Kang Emil berkicau di media sosial Twitter tentang pemanfaatan lahan kosong di Jakarta, lalu muncullah ide berkebun.

Ide tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan kopi darat 20 orang yang akhirnya menjadi inisiator Jakarta Berkebun. Lahan pertama yang dimanfaatkan berlokasi di Springhill, Kemayoran, seluas 10 ribu meter persegi. Kondisi tanah yang penuh berangkal (batu besar), jadi tantangan tersendiri.

Latar belakang pendidikan para penggiat yang bukan berasal dari pertanian, membuat mereka benar-benar mengandalkan informasi dari internet saat mengolah tanah. Mereka akhirnya berhasil menanam kangkung dan dipanen bersama oleh sekitar 150 orang.

Berbagai kegiatan dilakukan oleh para penggiat di Jakarta. Mereka berbagi lewat Twitter bagaimana cara panen dan senangnya berkebun. Dampaknya, banyak kota lain di Indonesia yang ingin terlibat. Maka mulailah Bandung, Bogor, Banten, Pontianak, bahkan sekarang sudah berkembang ke Aceh hingga Fakfak.

Hingga kini sudah ada 33 kota jejaring dan tujuh kampus. Karena perkembangan yang sangat luar biasa, pada awal 2012 dibuatlah Indonesia Berkebun untuk menaungi seluruh kegiatannya.

Inisiator dan public relation Komunitas Indonesia Berkebun, Sigit Kusumawijaya, mengungkapkan makin besarnya antusiasme masyarakat untuk turut serta. Motivasi mereka untuk ikut pun beragam.

“Golongan senior, yang bisa disebut diatas 30 tahun, biasanya sudah punya hobi berkebun atau ingin baru belajar berkebun. Ada juga yang katanya untuk kesehatan. Anak muda yang ikut juga banyak karena ingin eksis. ‘Ini lagi ada tren nih, yuk ikutan yuk,’ seperti itu. Tapi mereka menjadi penyambung lidah di media sosial, jadi menjadi cepat meluas informasi tentang kami. Bahkan ada juga yang pengen berbisnis,” ungkap Sigit, yang juga berprofesi sebagai arsitek,

Gerakan ini mewajibkan komunitas atau tiap jejaring harus punya lahan sendiri untuk diolah, dan ada penggiatnya juga, sekitar 5-10 orang. Mereka, lanjut Sigit, harus mencari lahan yang bisa dipinjam.

“Boleh lahan siapa aja. Milik swasta, atau dari pemerintah. Kalo urban farming ya kita harus memiliki lahan bersama. Kita tidak memakai perjanjian tertulis dengan pemilik tanah juga. Semua didasari atas ketulusan dan niat positif,” kata Sigit,

Dia mengingatkan komunitas Indonesia Berkebun merupakan gerakan yg mengedukasi masyarakat, bukan tukang kebun. Masalahnya, ungkap Sigit, sering sekali kali mereka disebut tukang kebun. Untuk itulah semua elemen harus terlibat, termasuk pemilik lahan dan masyarakat sekitar.

Kendala internal pun kadang muncul. “Beberapa jejaring ada yang sedang tidak aktif, karena tanahnya sedang digunakan orang lain atau pengggiatnya sedang tidak ada. Maka dari itu, untuk ke depan kami akan agak ketat,” lanjut Sigit.

Sambutan Pemerintah

Pemerintah, melalui Menteri Pertanian Suswono, menyambut baik komunitas Indonesia Berkebun yang menerapkan konsep urban farming. Dengan penerapan sistem ini, diharapkan bisa memberikan keuntungan ekonomi bagi rumah tangga.

“Saya kira apa yang telah dilakukan oleh komunitas Indonesia Berkebun itu sangat positif. Saya pun sudah pernah berinteraksi dengan Indonesia Berkebun,” kata dia kepada VIVAnews, beberapa waktu lalu.

Suswono mengklaim, pemerintah melalui kementeriannya telah menerapkan konsep urban farming lebih dulu melalui Kawasan Rumah Pangan Bestari. Kawasan Rumah Bestari merupakan suatu ketahanan pangan berbasis rumah tangga, yaitu berbasis pemanfaatan lahan pekarangan. “Jadi, ini sudah dideklarasikan oleh Pak Presiden pada tahun 2012 awal,” ujarnya.

Awalnya, kata dia, program ini dimulai dari Gerakan Perempuan untuk Optimalisasi Pekarangan pada 2011, berlanjut menjadi Kawasan Rumah Pangan Bestari. Yaitu dengan memanfaatkan pekarangan sekecil apapun untuk perkuat tanaman keluarga dengan ditanami tanaman seperti sayur-sayuran, termasuk memelihara ikan, ayam, juga kelinci.

Menurut Suswono, program tersebut telah dilakukan di 12.000 kota dan desa di seluruh Indonesia. Daerah yang menjadi contoh pertanian itu salah satunya adalah Desa Kayen, Kabupaten Pacitan.

“Termasuk yang kita fokuskan adalah daerah-daerah perkotaan. Setiap wilayah ada kelas. Setiap kabupaten diawali dengan dua desa model. Nah, jadi setiap kabupaten/kota ada dua desa model yang sekarang direplikasi jadi 12.000 desa,” terangnya.

Untuk di kota besar, Suswono mengatakan bahwa sudah ada daerah-daerah yang menjadi model family farming, seperti di Jakarta, Medan, dan Pekalongan. Awalnya, ada 35 kepala keluarga (KK) yang mengikuti konsep perkebunan ini, lalu berkembang menjadi 600 KK.

Ketika program tersebut diluncurkan, kementan memberikan kebun bibit desa. Di sana ada bibit sayur-mayur seperti cabai, cai sim, sawi, terung, dan pare. “Saya kira ini kuncinya adalah pada kebun bibit desa. Kalau dikelola dengan baik, kelangsungan program ini akan berjalan dengan baik,” kata dia.

Kementan menganggarkan Rp47 juta per desa untuk melakukan program tersebut. Ditargetkan ada 3.000 desa yang menjadi tujuan program family farming tersebut. Awalnya bahkan terdapat 5.000 desa sebelum ada pemotongan anggaran. Kementan ini juga mendapatkan pendampingan seperti tenaga penyuluh untuk program ini.

Suswono pun mengklaim konsep urban farming yang diterapkan Kementerian Pertanian–kalau di Kementerian Pertanian, namanya family farming–telah diadopsi Food and Agriculture Organisation (FAO).

“Sudah dua tahun yang lalu. Jadi, mulai kita declare itu dan kami terjemahkan ke enam bahasa dan juga kami bikinkan video dan diserahkan ke dirjen FAO dan oleh FAO sendiri diadopsi menjadi Family Farming. Kami pun pernah diundang berbicara tentang family farming di New York waktu itu. Waktu itu nggak bisa berhalangan. Agustus ini ada undangan dari India berbicara tentang family farming juga,” kata dia.

Kementan telah melakukan perhitungan ekonomis apabila ada suatu keluarga menerapkan konsep urban farming. Suswono menyebut, setiap rumah tangga bisa mengurangi pengeluaran hingga Rp150-750 ribu per bulan.

“Perhitungannya, ya, dengan dia tidak membeli cabai, tidak membeli sayur-sayuran, tomat, terung, pare. Kemudian, dia dengan kolam ikannya, lele. Ini sudah ada hitung-hitungannya,” paparnya.

Selain bermanfaat secara ekonomi, Suswono mengatakan bahwa konsep berkebun ini bisa mengurangi tekanan terhadap inflasi, walau tak disebutkan berapa persen perannya untuk menekan inflasi.

Namun, sebagai pegiat Indonesia Berkebun, Sigit perhatian pemerintah atas gerakan ini masih terkesan belum menyeluruh. Dia melihat pihak swasta justru lebih akomodatif membantu ketimbang pemerintah.

“Memang di beberapa kota, pemerintah setempat respek terhadap jejaring yang ada disana. Kalau pemerintah, dulu kita sempat dijanjikan sesuatu juga oleh mereka. Tapi hingga saat ini belum ada kelanjutannya lagi.
Jadi pihak swasta memang lebih terbuka. Begitu juga dengan media. Kita sering diliput media kalau ada agenda menanam atau memanen,” ungkap Sigit. Untuk itu perlu ada dukungan yang optimal dari semua pihak, baik dari pemerintah maupun swasta. (ren)

Bagian 2: INFOGRAFIK: Indonesia Harus Berkebun:
http://sorot.news.viva.co.id/news/read/525836-infografik–indonesia-harus-berkebun

Bagian 3: Bercocok Tanam di Gedung:
http://sorot.news.viva.co.id/news/read/525837-bercocok-tanam-di-gedung

Leave a Reply