Regrow; Secuil Harapan dari Sisa Dapur (oleh Enal, penggiat Makassar Berkebun)

Berkebun menjadi kegiatan yang kian digemari oleh berbagai kalangan, bahkan menjadi gaya hidup baru dalam tatanan kenormalan yang baru. Sumber-sumber informasi tentang berkebun pun tersaji dengan berbagai macam konten. Salah satu konten yang tentunya menarik bagi untuk kita tonton adalah bagaimana menumbuhkan berbagai tanaman.

Regrow atau regrowth adalah satu dari sekian banyak konten berkebun yang banyak mendapat perhatian. Banyak konten yang bermuatan regrow menunjukkan kegiatan berkebun menjadi sangat mudah. Tak jarang banyak orang tergugah untuk mengikuti. Tak sedikit juga pengikutnya kecewa dengan hasil yang diperoleh, tak seperti yang diharapkan.

Maka dari itu, sepertinya kita perlu menyamakan persepsi dalam mendefenisikan regrow ini. Jika kita mengartikannya secara leksikal berarti menumbuhkan Kembali. Maka, apa pun yang dihasilkan oleh sebuah individu tumbuhan dan ditanam untuk menghasilkan individu baru bisa diartikan sebagai regrow. Secara gramatikal, regrow bisa disebut sebagai upaya menumbuhkan individu tumbuhan baru dari sisa bahan konsumsi. Saya kemudian menarik sebuah defenisi bahwa, regrow merupakan metode yang lahir sebagai uapaya untuk mengambil manfaat tambahan dari sisa konsumsi sebelum semuanya berujung di tempat sampah.

Dari pengertian di atas, ada beberapa manfaat yang bisa dicapai dari me-regrow sisa dapur. Pertama, kita bisa menghasilkan individu tanaman baru tanpa harus membeli benih atau bibit. Kedua, volume sampah organik bisa dikurangi karena ada yang dikembalikan langsung di alam meskipun volumenya sangat kecil. Ketiga, sebagai bahan riset mandiri mengenai kepatutan budidaya untuk menghasilkan bahan pangan yang baik. Keempat, sebagai bahan ornamental plant. Dan kelima, pada akhirnya akan menambah kualitas lingkungan yang baik di sekitar rumah dari aktivitas budidaya yang dilakukan.

Bukan berarti semua sisa dapur atau konsumsi yang berpeluang hidup bisa di-regrow. Tentunya ada kaidah yang tetap harus dipertimbangkan berdasarkan tujuan yang ingin kita capai. Apakah tujuan akhir kita untuk konsumsi, bahan belajar, atau hanya untuk hiasan (ornament). Dalam regrow, kita tidak lagi mengenal istilah benih, yang ada hanya eksplan, biji, dan bibit. Saya kira urusan biji dan benih ini kita sudah punya interpretasi yang sama sehingga tidak perlu lagi kita bahas di sini. Yang harus ditanamkan adalah kualitas bahan tanam 60% menentukan kualitas panen. Dengan demikian, kita akan memaksimalkan bahan tanam saat me-regrow.

Beberapa tanaman yang di-regrow memang sesuai dengan pembiakan tanaman tersebut. Wortel, jahe, nenas, bawang merah, dan bawang putih adalah tumbuhan yang secara alami memang dibiakkan secara vegetatif. Wortel dengan umbi akar, jahe dengan rimpang, nenas dengan tunas mahkota, bawang merah dan bawang putih melalui umbi lapir. Dengan sedikit memilah bagian terbaik dari bahan-bahan di atas maka secara kualitas, panen yang diharapkan bisa memuaskan. Namun demikian, wortel misalnya, masih lebih baik jika ditanam dari benihnya.

Bagaimana dengan bawang daun, seledri, serai, mint, oregano, dan kemangi? Selain dari biji, tanaman-tanaman tersebut mampu dibiakkan juga secara vigetatif. Bawang daun, seledri, dan serai masih mampu menghasilkan anakan sehingga pada kondisi indukannya mencapai titik tumbuh maksimal, potensi anakan yang dihasilkan masih baik. Demikian juga mint, oregano, dan kemangi, golongan ini akan mampu membentuk pertunasan yang baik karena memang bisa diniakkan dengan metode setek. Pengaruh defoliasi (pemotongan bagian tanaman di bagian atas permukaan tanah secara terus-menerus), perlu mendapat perhatian lain tapi bisa diabaikan dengan memberi perlakuan budidaya yang baik dan benar setelah transplanting.

Bahan tanam regrow yang harus mendapatkan perhatian khusus adalah biji. Ingat, beda biji dengan benih tapi bukan berarti biji tidak boleh ditanam karena itu memang fungsi dari biji. Jika yang akan di-regrow adalah biji komposit, tidak ada masalah. Biji komposit yang dimaksud adalah biji yang dihasilkan dari ragam kemungkinan persilangan saat pembuahan bunganya sehingga sifat yang dimiliki diharapkan memiliki adaptasi yang lebih luas. Sangat berbeda dengan biji dari buah hibrida. Dengan persilangan yang sempit maka peluang untuk perubahan sifat F2 (turunan kedua) dengan induknya sangat besar. Kondisi ini memungkinkan terjadinya kualitas buah yang dihasilkan jelek dan bisa juga sebaliknya. Tapi melalui rekayasa, cenderung menghasilkan anakan yang produksinya lebih rendah dari induknya.

p_20200627_130225-012801988621062461428.jpeg

Dalam mengambil biji pun tidak sembarangn. Sebelum mengolahnya, pisahkan buah terbaik yang ingin diambil bijinya dengan harapan bahwa buah terbaik adalah buah yang dibentuk dengan segala lecukupan dari pohonnya. Selanjutnya, pada buah terpilih itu, pastikan hanya mengambil biji di bagian tengah saja.  Biji yang terdapat di bagian tengah diyakini sebagai biji terbaik dengan pemenuhan gizi terbaik dari induknya. Selain itu, biji di bagian tengah rata-rata bernas dengan ukuran yang lebih seragam. Selanjutnya, pastikan buah yang akan diambil bijinya adalah buah yang matang morfologis sempurna. Pada buah yang demikian juga diyakini telah matang fisiologis.

p_20200627_194830-014575508809901707160.jpeg

Lalu, bagaimana dengan tanaman seperti selada, pakcoy, dan petsai? Golongan tanaman semusim dengan umur pendek dan tipe pertumbuhan sentralistik, sebaiknya tidak perlu di-regrow dengan tujuan panen konsumsi. Saat mereka dipanen, umurnya rata-rata sudah masuk dalam tahap vegetatif akhir. Tidak lama lagi mereka akan menghasilkan bunga. Belum lagi pengaruh defoliasi yang membutuhkan waktu bagi tanaman untuk menstabilkan metablismenya. Dengan demikian, daun yang dihasilkan juga tidak akan optimal. Kita Kembali ke tujuan utama kita berkebun di rumah adalah untuk mendapatkan bahan makanan yang berkualitas.

Selanjutnya, bagaimana melakukannya? Yang paling penting adalah mengenali tanaman dan karakternya. Ada yang bisa ditanam langsung di media pembesaran, ada yang perlu dilakukan pertunasan di media air, dan ada juga yang langsung menabur biji di media semai. Ada yang membutuhkan kondisi gelap, ada yang membutuhkan kondisi sedikit cahaya dan ada juga yang butuh paparan langsung sinar matahari. Bagi yang menggunakan media air, perhatikan kondisi air dalam wadah. Jika air menjadi keruh maka segera ganti dengan air yang baru untuk mencegah terjadinya pembusukan.

Setelah fase semai, lakukan pemisahan jika pada eksplan tumbuh banyak anakan. Untuk kasus ini banyak ditemukan di wortel, kentang, dan ubi jalar. Pemisahan anakan akan memperbanyak individu yang dihasilkan dan memberi ruang masing-masing individu untuk tumbuh dan berkembang. Lain kasus dengan bawang merah misalnya, pastikan bawang yang digunakan adalah bawang yang dipanen tua, biasanya 2,5-3 bulan. Secara fisik, kulit umbu terlihat lebih mengkilap. Sebaiknya potong sepertiga ujung atasnya lalu biarkan kering angin sebelum disemaikan. Pemotongan memiliki tujuan untuk mematahkan dormansi dan memungkinkan tunas anakan muncul banyak secara bersamaan. Beberapa petani di sentra produksinya tidak melakukan hal ini karena kendala tenaga kerja dengan luasan yang besar.

Tahap selanjutnya adalah pemeliharaan yang tidak terlepas dari penyiraman, penyulaman, penyiangan, pengamatan dan pengendalian hama dan penyakt. Sekali lagi bahwa tidak semua tanaman layak untuk di-regrow. Kita harus menetukan posisi sehingga apa yang dihasilkan tidak melenceng dari apa yang diharapkan. Apakah kita hanya ingin sampai di tahap ornamental atau harus semuanya bisa dikonsumsi pada akhirnya? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing sebelum memulainya.

Sering-seringlah berkonsultasi jika ada hal-hal yang kurang dipahami kepada yang lebih tahu. Jangan batasi diri dengan malas bertanya karena itu hanya mengekang ide dan tak memerdekakan pikiran. Malu bertanya sesat di jalan, bukan berarti banyak bertaya malu-maluin. Kita semua masih dalam tahap belajar. Mungkin ada yang baru belajar untuk mencari tahu, ada yang belajar untuk mengembangkan informasi dan seterusnya. Bukankah sebaik-baik manusia adalah mereka yang punya manfaat

(tulisan ini bersumber dari blog Enal, penggiat Makassar Berkebun dengan tautan:
https://enalgattuso8.wordpress.com/2020/06/28/regrow-secuil-harapan-dari-sisa-dapur/ )

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: